Blue Is The Warmest Color

Gw itu salah satu penggemar Lea Seydoux sejak menyaksikan penampilannya di Mission Impossible : Ghost Protocol. Setelah itu gw menyaksikan actingnya lagi di salah satu film James Bond. Tapi gw itu bukan fans yang selalu mengikuti film nya. Gw cuma suka aja lihat aktingnya dia.

Di satu sisi, gw sudah lama mendengar mengenai film Blue Is The Warmest Color. Gw tertarik dengan film ini tapi gw rasa akan sulit mencari film ini karena konon ceritanya adalah mengenai lesbian. Maka gw pun selow saja. Sampai suatu hari gw menyadari bahwa gadis berambut biru itu adalah Lea Seydoux. Maka dengan dipasangnya internet di apartemen gw, gw pun coba menonton film yang satu ini. Film ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah perkenalan dengan tokohnya. Bagian kedua adalah mengenai pergolakan hati kedua tokohnya.

blue-is-the-warmest-color-59036c5e3fafbd3d6bcc5c55

Film ini dibuka dengan pengenalan terhadap tokoh Adele, seorang siswa SMA di Prancis. Seperti siswa SMA pada umumnya, Adele bersekolah, bergosip, dan berpacaran dengan seorang pria bernama Thomas. Adele pergi berkencan dan having sex dengan Thomas tapi merasa ada yang kosong dalam dirinya. Hingga suatu hari seseorang menyadarkan dirinya bahwa dia memiliki ketertarikan lebih ke perempuan daripada laki – laki.

Hingga pada satu waktu dia memasuki gay bar yang banyak berisi perempuan yang lesbian yang mencari pasangan kencan di sana. Di gay bar itu, Adele menemukan seorang perempuan berambut biru yang ternyata pernah ditemuinya dan menimbulkan kesan tersendiri bagi dirinya. Dengan perempuan berambut biru yang bernama Emma ini, Adele menemukan hal yang selama ini dirasa kurang dari dalam dirinya.

Love is in the air. Begitulah yang gw rasakan saat menonton bagian pertama ini. Tidak banyak kata – kata diucapkan. Hanya kegiatan sehari – hari tapi terasa dekat dengan gw sebagai penontonnya. Rasa cinta sangat terasa antara kedua tokoh utama film ini. Gestur dan ekspresi mereka berdua membuat kita merasa cinta mereka yang begitu manis dan membahagiakan.

Dalam bagian pertama ini juga digambarkan mengenai lingkungan Adele dan Emma. Adele sebagai siswa SMA yang berasal dari keluarga kelas menengah yang lebih konservatif. Di satu sisi Emma adalah mahasiswa seni yang berasal dari keluarga menengah atas yang lebih bebas.ย Dengan Emma, Adele banyak mencoba hal yang tidak pernah berani dia lakukan seperti mencicipi tiram yang selama ini tidak berani dia makan. Berani coming out hubungannya dengan Emma walau ditentang oleh keluarga dan teman – temannya. Dengan Emma, Adele merasa bahwa biru begitu hangat.

blueisthewarmestcolor

Di bagian kedua, kita diperkenalkan dengan Emma dan Adele yang sudah lebih dewasa. Adele menjadi guru TK. Dia suka membaca dan mengajar anak – anak. Seorang lesbian dengan gayanya yang sederhana memilih terasing dari keluarga dan teman – temannya karena memilih untuk coming out sebagai seorang lesbian. Sedangkan Emma sendiri mulai keluar sebagai seorang seniman yang dikenal di kalangannya.

Ada sebuah adegan yang menurut gw lumayan kuat. Adegan pesta di rumah Emma benar – benar memberikan kesan yang tajam untuk gw. Melihat Emma dengan teman – temannya sedangkan Adele di sana melayani tamu – tamu yang datang. Obrolan sesama penggiat seni dan orang kalangan atas yang tidak dimengerti oleh Adele dan membuatnya merasa terasing di sana. Di sisi lain Adele melihat Emma dekat dengan wanita lain dan itu membuatnya cemburu tapi tidak bisa dia ungkapkan. Untungnya ada seorang cowok yang mengajak Adele untuk mengobrol (dan sepertinya tertarik dengan Adele). Akhirnya mereka berdansa diiringi musik dan layar yang menampilkan film yang menggambarkan perasaan Adele.

Rasa cemburu yang tidak bisa tersampaikan, jarak yang diciptakan perbedaan kelas sosial dan pergaulan, rasa sendiri dan keterasingan, Adele memilih untuk melampiaskan rasa frustasinya dengan having sex with her colleague, sesama pengajar di sekolah yang sama. Hal itu diketahui oleh Emma yang akhirnya marah dan mengusir Adele. Yang bikin gw greget adalah kenapa Emma memilih menutup mata dan tidak berusaha mendengar apa yang Adele inginkan. Betapa terasing dan kesepiannya Adele, betapa dia takut kehilangan Emma. Tapi Emma tidak peduli.

Kuat. Itu kesan yang diberikan film ini kepada gw. Bahkan banyak adegan yang masih terngiang di otak gw walau sudah lumayan lama gw nonton film ini. Akhir dari film ini memang menggantung tapi sepertinya itu memang yang terbaik.

Bahwa biru ternyata tidak lagi sehangat sebelumnya.


4 thoughts on “Blue Is The Warmest Color

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s