Choose Your Regret

Marry, and you will regret it;
don’t marry, you will also regret it;
marry or don’t marry, you will regret it either way.

Laugh at the world’s foolishness, you will regret it;
weep over it, you will regret that too;
laugh at the world’s foolishness or weep over it, you will regret both.

Believe a woman, you will regret it;
believe her not, you will also regret it…

Hang yourself, you will regret it;
do not hang yourself, and you will regret that too;
hang yourself or don’t hang yourself, you’ll regret it either way;
whether you hang yourself or do not hang yourself, you will regret both.

This, gentlemen, is the essence of all philosophy.

Beberapa dari kalian mungkin pernah mendengarkan kalimat di atas. Kalimat tersebut dikemukakan oleh Søren Kierkegaard, seorang filsuf dan teolog abad ke 19 yang berasal dari Denmark.

A : Ih gw nyesel deh kecepeten married. Seandainya gw ga married kecepeten, gw hari ini masih bisa seneng - seneng. Sekarang gw udah harus ngurus anak di rumah. Capek. Diri sendiri ga keurus. Udah ga bisa kerja. Duit cuma ngarepin dari suami.
B : Ah kenapa ya gw belum married? Sendainya gw udah married, saat ini pasti gw udah punya anak SD. Ga ditanya lagi kapan married kapan married. 

C : Tau gini kemarin gw kerja di konsultan ya. Gajinya tinggi, jenjang karirnya ada, kelihatannya menantang. Sekarang gw stuck di kantor gw. Isinya orang tua semua. Gw yang masih muda sendiri kudu ngalah terus. Kalau menyampaikan ide diremehkan katanya kamu masih anak baru. Mana jenjang karirnya juga ga jelas.
D : Capek gw kerja di kantor konsultan. Pulang lembur terus gw udah ga tahan. Pusing banget banyak kerjaan. Gw pengen cari kerjaan yang lebih santai. Apalagi gw cewek kan. Tar kalau gw udah punya akan gw ga bakal punya waktu ama mereka kalo gw kerja di sini mulu.

E : Gw pengen deh kerja di luar negri. Suasana baru, lingkungan baru. Gw juga pengen punya pacar bule dong. Gajinya tinggi pula.
F : Gw pengen balik kerja ke Indonesia. Kangen ama orang tua. Gw ga kuat musim dingin di sini. Mana rekan kerja gw rasis banget pula. Biaya hidup di sini juga tinggi banget.

G : Gw pengen ngekos. Bebas dari orang tua. Pulang malam ga dilarang.
H : Gw pengen balik ke rumah ortu. Biar tiap hari ada yang masakin. Tiap sakit ada yang jagain. Gw kangen.

I : Suami dia baik. Sangat mencintai dia. Aku juga ingin seseorang yang sayang banget sama aku. 
J : Suami dia kaya. Apa yang dia mau dibelikan. Aku juga ingin bisa berbelanja sepuasnya.

Pernah kalian mendengar percakapan – percapakan di atas? Di sekitar gw sih banyak banget cerita seperti itu. Saat gw masih kecil, gw ga begitu mengerti arti kalimat Søren Kierkegaard di atas. Hidup gw sangat idealistis. Tapi makin dewasa, kalimat tersebut menjadi sangat berarti. Mari gw ceritakan sedikit kisah tentang hidup gw.

Gw pernah berkenalan dengan seorang cowok. Dia pintar, punya banyak kenalan, ambisius. Penampilannya OK walau ga ganteng banget karena gw lebih suka cowok pintar daripada ganteng. Menurut gw otak seseorang membuat dia memiliki pesonanya tersendiri. Buat gw dia memenuhi segala hal yang gw sukai dari seorang cowok.

Singkat cerita, gw bisa teleponan ama dia ampe pagi hanya untuk ngobrol ga jelas. Kita bisa meet up berjam – jam hanya untuk ngobrol ga jelas semalaman. Bagi gw waktu itu, he’s perfect. At least for me.

Sampai suatu ketika gw ada sempat putus komunikasi dengan dia semenjak dia berangkat ke luar negri lagi untuk bekerja. Sehari sebelum dia berangkat sebenarnya dia ada telepon gw untuk mengajak gw pergi tapi gw ga bisa. Gw pikir saat dia pulang, kami masih bakal punya banyak waktu. Tapi gw salah. Ternyata waktu kami selesai sampai di hari itu.

Gw berpikir sendainya hari itu gw bisa pergi dengan dia apakah semuanya akan berubah?

Lalu waktu berjalan bertahun – tahun kemudian. Gw sudah punya cowok dan kita berdua akan menikah, dia sudah punya cewek dan terlihat bahagia. Kami bahagia di jalan kami masing – masing.

Lalu apakah penyesalan itu masih ada? Well, sebenarnya kalau dipikirkan kembali, walau kami ngobrol sampai pagi pun kadang obrolan kami ga nyambung sih. Mungkin dia terlalu pintar buat gw 😛

Gw menyesali ketidakpergian gw saat itu dengan dia. Seandainya kami pergi, mungkin keadaan akan berbeda.
Tapi gw pun tidak menyesali ketidakpergian gw saat itu dengan dia. Karena kalaupun keadaan berbeda dan gw sama dia, gw pasti akan merasa terlalu minder saat bersama dengan dia.

Another story, yang lebih mudah dicerna.

Gw punya mantan pacar dong. Mungkin teman – teman baik gw sudah mengenal dia ya. Dan sudah tahu cerita diantara kami berdua. Intinya kami putus karena suatu masalah. Apakah masalah itu tidak ada jalan keluarnya? Sebenarnya ada. Sendainya salah satu dari kami mau mengalah. Tapi tidak ada yang mau mengalah saat itu, sehingga ya sudah deh putus.

Saat itu gw menyesali mengapa gw ga mau mengalah. Seandainya gw mau mengalah, mungkin gw sudah menikah sekarang. Punya keluarga. Punya anak.

Tapi dengan berjalannya waktu, sekarang gw juga tidak menyesali hal itu. Seandainya dengan sifat gw sekarang, gw pasti bakal banyak makan ati kalo ngga berantem gede. Walaupun memang baru di umur segini (umur berapa? Ra.ha.si.a) gw baru akan menikah. Saat dimana gw harusnya punya anak di usia prima, ya harus tertunda padahal kondisi badan gw saat ini sedang kurang sehat.

Apakah gw menyesalinya?
Gw menyesal tidak lebih cepat menikah, berkeluarga, dan punya anak.
Tapi gw juga tidak menyesal karena at least gw ga harus makan ati atau berantem gede terus karena masalah itu.

Anyway, sebenarnya ga ada yang salah dari cara pandang gw dan mantan gw. Berbeda pandangan yang benar – benar ga bisa dipersatukan aja sih. Kebetulan gw sendiri tahu sifat gw dan dia gimana dan gw merasa kalau hal itu gw setujui, kemungkinan besar ya gw akan makan ati atau berantem terus. Jadi lebih ke kesadaran diri gw aja bahwa gw ga mampu melakukan apa yang mantan gw harapkan saat menikah dengan gw.

Kisah lain yang tidak berhubungan dengan lop – lop an ya.

Anak SMA gw banyak yang tahu kalau gw itu pengen banget sekolah ke Jepang. Gw pada saat itu mengincar beasiswa Monbukagakusho. Tapi pada akhirnya gw udah merasa nyaman di kampus dan memilih untuk tidak mengirimkan aplikasi beasiswa tsb.

Di satu sisi gw merasa menyesal karena gw belum berusaha tapi sudah malas. Siapa tahu gw bisa mendapatkan beasiswa tsb. Tapi di satu sisi gw juga tidak menyesal karena gw bisa bertemu teman – teman gw di Jakarta ini yang benar – benar kita jadi teman baik banget.

Last but not least, bagi gw pribadi ya, dalam hidup ini kita akan ditempatkan dalam keadaan dimana kita harus memilih. Semua pilihan tersebut akan menempatkan kita pada penyesalan. Sebelum kita mati, semua pilihan kita pasti akan ada risikonya. Pilihlah sebuah pilihan yang memberikan penyesalan paling sedikit atau penyesalan yang paling bisa kita handle.

Gw lagi banyak bepikir nih. Mungkin belakangan gw mendengar terlalu banyak cerita kali jadi berpikir dalam 😛 Tapi gw sangat suka memegang filosofi di atas dalam kehidupan gw.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s