Rumah

Hatiku senang sungguh senang. Akhirnya setelah sekian lama aku membeli rumah baru. Rumah yang sudah lama aku idam – idamkan. Demi rumah ini aku menabung setiap hari. Tapi semua kesulitan itu terbayar sudah. Aku mendapatkan rumah yang aku inginkan. Rumah yang kuidamkan.

Rumahku kecil tapi aku suka. Walau bukan rumah dari perumahan mewah, tapi itu rumah yang kubeli sendiri. Dengan hasil kerja kerasku selama ini. Rumah itu kujaga dengan baik. Walau rumah lama, tapi aku mengecatnya sehingga nampak seperti baru. Di sudut taman kuisi dengan tanaman. Semua perabot kuganti dengan yang baru. Semua atap yang bocor kuperbaiki. Ya aku lakukan itu semua dengan tanganku sendiri. Karena ini rumahku. Rumah yang kuidamkan.

Entah karena aku membeli rumah lama atau karena memang beginilah rupanya, rumahku mulai mengalami kebocoran walau atapnya sudah kuperbaiki berulang kali. Listrik sering jatuh sehingga elektronik yang kubeli pun cepat rusak. Dan pada musim hujan, tembokku mengelupas. Belum lagi saat menghadapi jarak yang jauh dari kantor ke rumah dan saat tiba aku harus melihat tikus – tikus yang tidak mau pergi dan tetap memakan tanamanku walaupun sudah kuberi racun tikus. Aku sedih. Rumah yang kubeli dengan uangku sendiri, rumah yang kurawat dan kujaga dengan tanganku sendiri. Rumah yang kuidamkan.

Temanku yang kasihan menawariku tinggal di rumahnya yang lebih baru. “Biarlah rumah lama itu kau jual saja.”, begitu katanya. Tapi aku tidak bisa. Rumah itu mungkin hanya rumah tua bagi orang lain. Tapi bagiku rumah itu begitu berarti. Aku tidak menyerah walau harus mengecat terus menerus. Aku perbaiki instalasi listriknya. Aku menaruh perangkap tikus dan memelihara kucing di rumah. Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini walau aku harus menghadapi jarak jauh berganti angkot dari kantor ke rumah. Aku percaya aku bisa memperbaiki rumah ini. Rumah yang kuidamkan.

Orang – orang meremehkanku karena tetap tinggal di rumah itu. “Sudah jual saja, nanti kau beli yang baru lagi.” Tapi mereka tidak menyadari banyak hal mengenai rumah itu. Apakah mereka tahu bahwa di dekat taman aku meletakkan sebuah kursi. Setiap malam terdengar suara jangkrik di sana, berpadu dengan angin malam dan sering membuatku terlelap setelah lelah menghadapi padatnya jalanan di kota ini. Tidak jarang aku tertidur di sana. Apakah mereka tahu bahwa ruang tamu rumahku sangat nyaman dan semilir angin dari kipas angin sering menemani malam – malamku yang sepi yang sering kuisi dengan berkeping – keping DVD bajakan? Apakah mereka tahu bahwa walaupun jauh dari kota, namun udara di rumahku ini sangatlah bersih dan semenjak pindah kesini penyakit asma ku tidak pernah kambuh lagi. Rumah ini menemaniku saat sepi, saat aku sendiri, saat aku merasa tidak berarti. Walau rumah ini rusak, tapi dia tetap kokoh berdiri menjagaku dari hujan dan sinar matahari. Rumah yang kuidamkan.

Tanpa terasa sudah lebih dari sewindu aku tinggal di sini. Suatu saat orang – orang dari pemerintah datang. Mereka menawarkan untuk merobohkan rumahku dan diberi ganti rugi yang sesuai. Aku terpana. Bagaimanapun rupa rumah ini, aku tidak pernah berniat meninggalkannya. Tapi mereka datang lagi dan lagi membujukku. Lahan rumahku ini akan dijadikan jalanan bagi kepentingan orang banyak. Aku sedih, aku membujuk, aku meraung, tapi aku sadar bahwa aku harus pergi. Aku tidak boleh egois demi keinginanku sendiri mempertahankan rumah ini dan mengabaikan kepentingan banyak pihak. Setelah berbulan – bulan bertahan, aku harus melepaskan rumah ini. Rumah yang kuidamkan.

Ganti rugi yang diberikan cukup besar ternyata. Mampu memberiku dana untuk membeli rumah di komplek perumahan yang lebih baik lagi. Walau begitu, tetap hatiku perih harus meninggalkan rumah lamaku. Semua perabotku sudah dipindah. Rumah itu sekarang kosong. Walaupun tahu kalau rumah ini akan dibongkar, tetap saja aku mengepel rumah ini untuk terakhir kalinya. Setiap sudut ruangan kubersihkan. WC kugosok sampai bersih. Karena semua perabotku sudah kukosongkan, aku memilih untuk tertidur di lantai saat malam tiba. Tidak ada suara, hanya ada hening. Air mataku meleleh. Ini adalah malam terakhir aku di rumah ini. Rumah yang kuidamkan.

Esok pagi aku terbangun karena cahaya matahari yang menembus dari jendela. Sudah saatnya aku pergi dari rumah ini. Kufoto setiap sudut dalam rumah itu. Kuhirup napas dalam – dalam. Wangi rumah tua. Wangi yang kucintai dan selalu kurindukan. Aku berjalan keluar dari rumahku. Kukunci pintu depan rumahku. Untuk terakhir kali aku melihat rumahku ini. Rumah yang kuidamkan ini. Rumah yang menemaniku saat – saat sepi. Rumah yang walau bobrok tapi selalu menjadi tempat aku kembali. Rumah yang tidak akan pernah kulihat lagi. Aku melangkah pergi. Tanpa menoleh kebelakang lagi.


2 thoughts on “Rumah

  1. Pingback: Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s