Sabtu Bersama Bapak – Adhitya Mulya

Saya suka Adhitya Mulya. Ini adalah review saya yang kedua untuk bukunya dia. Review saya yang pertama ada di sini.

Saya bertumbuh dengan mengadopsi pemikiran dari Adhitya Mulya. Untuk banyak hal saya banyak belajar dari seorang Adhitya Mulya. Sekarang ini saya akan mereview salah satu bukunya yang menurut saya special dan banyak mengajarkan arti hidup. Sabtu Bersama Bapak.

Lihat cover bukunya kurang menjual ya? Padahal cover ini dibuat dengan cerdas. Kalau difoto dengan sudut tertentu, maka post it yang bertuliskan Adhitya Mulya itu menjadi seperti benar – benar ditempel dengan post it.

Buku yang saya beli itu cetakan keduabelas di tahun 2016. Laris manis ya buku ini? Tentu saja. Dua tahun dan memasuki cetakan keduabelas. Tentu saja buku ini special. Dari pertama terbit tahun 2014, saya sudah mengincar buku ini. Tapi entah kenapa baru kemarin Sabtu saya membelinya. Mungkin memang saat ini membacanya adalah saat yang paling tepat. Saat saya sudah cenderung lebih dewasa dalam melihat hidup. Jadi seberapa special sih buku setebal 278 halaman ini?

 

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama – sama kuat. Bukan yang saling mengisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing – masing orang. Bukan tanggung jawab masing – masing. Find someone complimentary, not supplementary.” – Cakra

“Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.” – Pak Gunawan

Tidak mudah menjadi seorang ayah yang akan menjelang ajal dan tidak memiliki banyak waktu lagi dengan anak – anaknya. Bapak Gunawan ingin sekali bisa menyertai anaknya hingga dewasa. Melihat anak – anaknya tumbuh dan berkembang. Apa daya, penyakit datang terlalu cepat.

 

“Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu mempunyai pilihan untuk mencari pekerjaan lain. Atau yang paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang yang buruk. 
Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.” – Satya

“I can’t ask for a better you. You, however, deserve a better me.” – Satya

 

Sebagai seorang ayah yang baik dan berharap bisa memberikan contoh yang tepat sebagai seorang ayah, mengajarkan anak – anaknya akhlak yang baik sebagai seorang manusia, Pak Gunawan pun merekam pesan – pesan yang nantinya akan menjadi jembatan penghubung dirinya dan anak – anaknya saat ia sudah tiada.

 

Bu Itje : “Seorang istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat.”
Cakra : ” Iya sih. Tapi Mah, seorang suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat.”

Dan ketika Pak Gunawan sudah tiada, melalui video – video itulah ia mengajarkan anak – anaknya arti hidup. Video tersebut juga menemani anak dan istrinya melewati masa – masa sulit.

 

“Ada orang yang merugikan orang lain
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka
Ada orang yang merugikan diri sendiri
Ada orang yang berguna untuk diri sendiri
Ada orang yang berhasil berguna untuk keluarganya
Terakhir adalah orang – orang yang berguna bagi orang lain” – Pak Gunawan

“Meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenagan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf.”

Pada akhirnya, kedua anak lelaki Pak Gunawan pun tumbuh menjadi orang – orang yang berpendidikan dan memiliki pekerjaan mapan. Satya bekerja di pertambangan dan mempunyai tiga orang anak. Sedangkan Cakra menjadi atasan di sebuah bank dan jomblo.

 

Cakra : “Di budaya kita, anak membantu orang tua”
Bu Itje : “Dan keluarga kita, kita ga nyusahin orang lain. Waktu kecil kalian ga nyusahin mamah. Sekarang mamah, ga nyusahin kalian.”
Pak Gunawan : “Waktu dulu kita jadi anak, kita ga nyusahin orang tua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak.”

“Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang.”

Satya menjadi ayah yang buruk bagi anak – anaknya. Tetapi nasihat Bapak membuat dia sadar dan berusaha menjadi figur ayah dan suami yang baik. Cakra, menjadi lebih dewasa daripada umurnya. Dia benar – benar merenungi isi pesan dari Bapak nya. Menjadikan dia orang yang penuh planning dan memilih untuk berhati – hati agar tidak salah memilih.

 

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik – adiknya.
Menjadi panutan adalah tugas orang tua untuk semua anak” – Pak Gunawan

“Harga diri kamu datang dari dalam hari kamu dan berdampak ke orang lain.
Bukan dari barang atau orang luar berdampak ke dalam hati.” – Pak Gunawan

Buku yang manis. Sedih tetapi memunculkan senyum saat membacanya. Banyak nilai dan filosofi hidup di dalamnya. Berapa banyak dari kita yang menyadarinya? Terutama dalam hal kedewasaan dalam berpikir. Banyak yang saya petik dalam cerita ini.

 

“Saat kalian gede, akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, yang lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan selain melawan dan menang. 
Akan datang juga masanya… Semua orang tidak akan membiarkan kalian menag.Jadi kalian haris pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki – kaki sendiri.” – Pak Gunawan

“Bermimpi setinggi mungkin. Tapi mimpi tanpa rencana dan action hanya akan membuat anak dan istri kalian lapar.” – Pak Gunawan

Bagi kalian yang masih single, bacalah buku ini karena akan membuka wawasan kalian tentang kehidupan.
Bagi kalian yang akan berkeluarga, bacalah buku ini karena akan membuka wawasan kalian untuk membangun keluarga yang baik.
Bagi kalian yang sudah berkeluarga, bacalah buku ini dan kalau dari saya harapkan sih kalau yang sudah berkeluarga baca buku ini dan merasa tulisan di memang sesuai, barangkali bisa diterapkan dalam hidup berkeluarga. Terutama tulisan mengenai tiga hal yang diminta seorang laki – laki dari perempuan.

“Ketika seorang laki – laki dan perempuan menikah, laki – laki itu meminta banyak dari perempuan. 
Saya pilih kamu. Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu.
Percayakan hidup kamu pada saya, dan saya akan penuhi tugas saya padamu lahir dan batin.
Pindahkan baktimu. Tidak lagi baktimu kepada orang tuamu. Baktimu sekarang pada saya.
Banyak laki – laki yang saat menikah tidak tahu bahwa mereka meminta ini.
Banyak juga laki – laki yang bahkan kemudia hari mencederai tiga hal ini.” – Cakra

“Laki – laki / perempuan yang baik itu gak bikin pasangannya cemburu.
Laki – laki / perempuan yang baik itu, bikin orang lain cemburu sama pasangannya.” – Cakra

 

Teh Nini, saiah teh cemburu ama teteh. Habis suami teteh itu Adhitya Mulya sih. Salah seorang penulis paporit saiah. Suami teteh pan orang baik ya berarti. Soalnya dia bikin saiah cemburu ama teteh sih. #just kidding. Tapi saya beneran ngefans ama Adhitya Mulya lho.

Saya baca buku ini cukup satu jam sodara – sodara. Saking enaknya untuk dibaca dan ceritanya mengalir dengan lancar. Akhir kata, yuk bikin teh manis sariwangi (#bukan iklan) sambil baca buku ini. Kalau bisa di hari Sabtu juga biar kita bisa merasakan Sabtu Bersama Bapak =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s