Kok masuk IPS?

Bagi anak – anak SMA yang galau banget menentukan jurusan. Mau masuk IPA atau IPS? Jujur, saya masih inget banget masa galau pas SMA sampai akhirnya saya memilih untuk masuk ke IPS.

Masuk IPA itu lebih ok. Kalo masuk IPA bisa milih mau bidang kuliah di jurusan IPA atau di jurusan IPS. Kebetulan saat itu saya memang terpikir masuk IPA. Karena sebuah alasan. Cita – cita saya adalah mengambil jurusan kuliah Geofisika di kampus ITB. Kebetulan untuk fisika dan matematika saya ga masalah. Saya malah cenderung suka dua mata kuliah tersebut. Untuk kimia sih so – so lah. Masalahnya justru terletak di mata pelajaran Biologi. Saya benci mampus ama pelajaran Biologi. Padahal dulu sempet punya cita – cita jadi dokter loh.

Tapi akhirnya saya kubur cita – cita lama untuk masuk Geofisika karena saya akhirnya masuk ke IPS. Walaupun begitu, sempat terbersit di otak saya untuk nekad aja masukin form pendaftaran ke ITB, ikut tes, kali aja keterima. Tapi saya hapus niat itu juga.

Jadi masuklah saya ke IPS. Jurusan paling menyenangkan.

Kenapa saya bilang masuk IPS menyenangkan? Karena saya tidak pernah belajar. Satu – satunya pelajaran yang benar – benar mau saya pelajari selama saya masuk jurusan IPS hanyalah matematika. Karena saya cinta matematika. Saking cintanya, sempat pas kelas 3 SMA, saya berniat mendaftarkan diri masuk jurusan matematika di salah satu universitas di Bandung (saya lupa nama universitasnya apa, salah satu teman sekolah yang bernama Kumala mendaftar di univ ini). Tetapi niat itu saya batalkan tidak lama setelah niat itu muncul.

Yah jadi kembali ke masalah tidak pernah belajar. Melihat saya belajar akan terasa seperti melihat sebuah mimpi. Karena saya tidak pernah menyentuh buku sama sekali kalau sampai rumah. Buku yang saya sentuh cuma komik ma novel saja. Itu saja sudah cukup. Tapi beruntung, nilai saya ga pernah jelek. Apa rahasianya? Simple. Saya tahu diri dan menyadari kalau saya ga demen belajar kalo di rumah, jadi ya saya cukup belajar latihan soal di sekolah. Saya dengerin guru gw ngomong. Karena saya memang tertarik. Seperti geografi. Saya masih ingat nama guru saat itu yaitu Bu Yulia. Banyak yang ga suka sama dia, saya tahu. Tapi saya suka tuh. Caranya dia mengajar enak dan jelas sekali. Kalau rajin mendengarkan saja sebenarnya sudah bisa mengerti tanpa harus belajar. Lalu sejarah. Guru saya saat itu bernama Pak Ngongo. Banyak yang ga suka sama dia, saya tahu. Tapi saya suka. Pengetahuan dia mengenai sejarah sangat luas. Dan saya suka cara dia mengajar. Walau kadang ngantuk, saya ikuti saja terus. Catatan sejarah saya, saya rasa paling komplit satu angkatan #nyombong.

Pokoknya intinya saya ogah belajar. Tapi suka ngerjain soal yang dikasih guru di kelas. Suka dengerin guru ngomong. Pulang ke rumah kerjaan saya cuma baca komik ma novel (ama internetan). Titik pokoknya saya pulang ke rumah ga mau diganggu soal sekolah (kecuali tugas ma matematika). Lucunya ada temen saya yang bilang kalau saya itu anaknya Pak Edi (guru Matematika) . Khusus untuk matematika ini si guru suka banget ngasih latihan soal, tapi entah kenapa antara latihan soal ama ulangan, ulangannya lebih susah (jauhhhhhhhhhhhhh) . Tapi saya sangat menikmati hari – hari dimana sata mengerjakan soal latihan ma ulangan matematika sih. Jadi ya saya go with the flow saja. Ekonomi akuntansi juga menarik banget. Saya suka banget ujian try out. Bahkan kalau dipikir – pikir lagi, saya menikmati kelas tambahan juga.

Ngomong – ngomong inilah jurusan yang sempat menjadi incaran saya waktu SMA.

  1. Matematika – sebuah univ di Bandung
  2. Geofisika – ITB
  3. Sejarah – UKSW
  4. Fikom – Petra
  5. DKV – Petra
  6. Komputerisasi Akuntansi – Binus
  7. DKV – Untar
  8. Akuntansi – Untar
  9. Psikologi
  10. Hukum – Undip
  11. Beasiswa Monbukagakusho untuk sekolah ke Jepang. Tapi pada akhirnya saya malas ngurus pendaftaran karena sudah pw di Untar.

Nah jadi jangan merasa rendah diri lah kalau masuk IPS (percaya ga percaya, ada yang gini lho). IPS itu menyenangkan kok.=)

Kisah penutup :
Ga ada yang pernah bilang kalau anak IPS itu harus pintar di IPS saja. Anak IPS juga bisa pintar di mata pelajaran eksak. Dulu pas saya masuk akuntansi di Untar, papa ngomel suruh saya masuk manajemen. Saya ngotot ga mau. Karena menurut saya di manajemen isinya hapalan dan akuntansi isinya hitungan. Kenyataannya akuntansi banyak hapalan juga sih. Tapi pada intinya adalah, pada saat itu saya ga memilih manajemen sebagai pilihan saya. Ketika didiskusikan dengan Pudek 1 di FE, Pudeknya bilang kalau saya masuk manajemen sayang karena hasil tes matematika saya tinggi. Jadi kalau masuk manajemen sayang, sebaiknya diarahkan ke akuntansi. Akhirnya di sinilah saya, menatap laporan keuangan.

 

Surat Seorang Akuntan judulnya Dear Financial Statement

Dear financial statement,

it’s a weird pleasure in loving someone who doesn’t love you. But thank you for loving me even if I don’t love you back. Thank you for treat me like your priority when I treat you as my option.

But, love is like a rubber band held at both ends by two people. When one leaves, it hurts the other

I try to handle this feeling, but people keep saying that it’s better to be with those who bring out the best in you, not the stress in you.

Trust me that one day you’ll meet someone who doesn’t care about your past because they want to be with you in future.

So, should we break up?

With love,
Your accountant

dibuat tanggal 29 Desember 2015

Oleh Ricca, the author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s