Surga Yang Tak Dirindukan (d/h Istana Kedua)

Apa jadinya surga jika ia tak lagi dirindukan?

Apakah kalian tahu buku Surga Yang Tak Dirindukan (SYTD) yang ditulis oleh Asma Nadia dan diterbitkan oleh Asma Nadia Publishing House? Kalau kalian masih belum tahu, cobalah mencari tahu. Jika kalian sudah tahu, cobalah membacanya.

Gw tahu buku ini karena melihat poster filmnya. Dalam sudut otak gw, gw berpikir, “Wow! Judul film ini simple tapi terasa dalam sekali.” Kesan mengenai film ini lewat begitu saja dalam pikiran gw, walau gw tetap mengingat judul film ini karena alasan yang gw sebutkan sebelumnya. Tetapi tidak lama kemudian, gw membaca sebuah quote di Path.

Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

Wah kata – kata yang bagus sekali. Tertanam dalam otak gw kata – kata tersebut. Gw merasa ga bisa move on dari kata – kata itu. Akhirnya gw menjadi penasaran. Gw pun mencoba mencari tahu mengenai film ini. Ternyata film ini diangkat dari sebuah novel yang awalnya berjudul Istana Kedua dan setelah itu diubah menjadi SYTD.

Gw pun mencari buku ini di Gramedia. Setelah membacanya, ternyata gw jatuh cinta dengan buku ini. Bersama dengan buku ini, gw diajak berdansa dengan kata. Menggunakan alur maju mundur, kita diajak memasuki pikiran dua orang wanita, yaitu Arini dan Mei Rose.

Arini berasal dari keluarga yang bahagia dan memiliki kehidupan yang baik. Hidupnya selalu dikaitkan dengan dongeng yang dicintainya dan memiliki keyakinan dalam hidupnya bahwa hidupnya akan selalu berbahagia sama dengan akhir bahagia dongeng yang dicintainya. Ia merasa hidupnya semakin sempurna dengan kehadiran Pras, seorang lelaki yang kemudian menjadi suaminya.

Mei Rose sendiri merupakan seorang perempuan yang sedari kecil harus berjuang melawan nasib yang seringkali tidak berpihak kepadanya. Satu per satu pengalaman pahit dalam hidupnya membawanya bertemu dengan Pras, seorang lelaki yang kemudian menjadi suaminya.

Yup, buku ini memang menceritakan mengenai poligami. Kata yang akrab terdengar di telinga tetapi asing untuk dipahami. Buku ini menceritakan mengenai perasaan seorang perempuan saat mengetahui bahwa dirinya dipoligami.

Dengan ending yang menggantung, nampaknya Asma Nadia mengajak kita semua untuk menebak sendiri bagaimana seharusnya cerita ini berakhir menurut masing – masing pembaca.

Mungkin, dongeng seorang perempuan harus mati, agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan.

Mari kita berdansa dengan kata 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s