Leonardo Kamilius

Awalnya gw cuma mau ngutip postingan Mba Leija, salah satu blogger favorit gw, yang berjudul why wait dan tentunya akan gw tampilkan sourcenya dong. Tapi sebagai pemilik blog, gw merasa malu kalo cuma ngutip doang. Jadi akan gw gubah dengan bahasa gw. Kalo tertarik untuk membaca postingan aslinya, bisa dibaca di link di atas.

Gw juga mendapatkan cerita mengenai kisah hidup Leon sampai akhirnya dia mendirikan Koperasi Kasih Indonesia dan perjuangannya untuk survive di Fimela. Jadi marilah gw akan mulai menulis mengenai sosok cowok muda yang menginspirasi ini.

Kalau Mba Leija ga kenal Leon secara pribadi, gw apalagi. Hanya saja saat gw sedang membaca postingan Mba Leija ini, gw seperti membaca sosok seseorang yang keluar dari comfort zone nya dan membangun sesuatu yang selain bisa membantu banyak orang, juga menginspirasi orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Leonardo Kamilius alias Leon ini temannya suami Mba Leija saat masih sama – sama bekerja di McKinsey & Company (ahhhhh gw suka deh – deg ser deh kalo nulis nama perusahaan ini… Kalo Mba Leija serasa mau di dor FBI, gw berasa kayak mau dilamar…)

McKinsey ini merupakan pekerjaan impian dari cowok yang lulus dari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UI dengan gelar cumlaude ini. (Ahhhh gw juga mau dong McKinsey.) Dan setelah setahun bekerja, Leon langsung dipromosikan sebagai business analyst. Sayangnya setelah 15 bulan bekerja, dia merasa jenuh. Rasa jenuh ini yang membawa Leon datang ke Padang saat gempa tahun 2009 untuk membantu di sana.

kki-3

“Saya ingin membantu di sana. Sejak kuliah saya memang sudah tahu suatu hari akan menolong orang lain, tapi saya ingin lebih dulu fokus mengembangkan diri, jaringan, dan kondisi keuangan sampai benar-benar siap. Saya pikir, di usia 40 tahun, saya baru akan memulainya.” 

Sebenarnya kalau baca di postingannya Mba Leija dan comment di sana, Leon ini tipikal cowok yang wow banget deh. Umur masih muda, tapi sudah bisa masuk McKinsey padahal saingannya 69 lulusan terbaik UI, ITB, dan UGM. Pinter, berprestasi, semangat, berdedikasi, very well-mannered, ramah, dan supel. Oh em ji… Cowok idaman gw banget. Sayangnya udah married. (maaf melenceng dari pokok bahasan…)

Dari semua hal di atas, bisa dilihat kalo dia itu punya bright future. Aduhhhhh calon mantu idaman lah pokoknya. Tapi siapa sangka kalau perjalanan dia ke Padang jadi titik balik dalam hidupnya. Dia menemukan passionnya dalam kerja sosial. Sayangnya bahwa saat itu dia ga berani keluar dari comfort zone nya di McKinsey sampai akhirnya saat review kinerja di McKinsey, dia menyatakan bahwa dirinya tidak bersemangat dengan pekerjaannya walaupun sebenarnya pada penilaian kuartal kedua performanya menunjukkan perbaikan daripada penilaian di kuartal pertama. Akhirnya dari pihak McKinsey meminta Leon mengejar apa yang dia mau, jadi dia pun dikeluarkan.

In short, setelah membaca buku dari Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian, Leon menemukan bahwa ada cara untuk membantu orang yaitu dengan menjalankan bisnis sosial, dimana institusi ini bertujuan mengatasi isu sosial tertentu yang menjalin relasinya bukan dengan cara memberi, melainkan dengan cara bisnis.

logo-kki

“Wah, saya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Di satu sisi saya ingin melakukan kegiatan sosial, di sisi lain saya juga suka berbisnis. Dan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan modal yang saya punya adalah lembaga keuangan mikro. Karenanya saya mendirikan KKI.” 

Konsep KKI itu memberikan pinjaman lunak (softloan) untuk masyarakat miskin. Koperasi model ini nggak meminta jaminan, dan pinjaman diberikan kepada sekelompok orang (bukan individual). Sistem yang digunakan adalah tanggung renteng. Peminjaman tidak dilakukan perorangan, tapi perkelompok, minimal 15 orang dan maksimal 25 orang, sehingga ketika ada 1 orang tak membayar utang, maka ke-14 anggota dalam kelompok itulah yang akan menanggung utangnya.

kki-1

“Faktanya, tak semua orang yang tergolong tak mampu itu mau maju, dan itu akhirnya kami jadikan sebagai salah satu syarat pendaftaran. Semua calon anggota harus mau maju kalau berminat masuk ke KKI.”

Hasil obrolan suami Mba Leija dan Leon mengungkapkan fakta menarik mengenai KKI. Taun lalu (post tahun 2012), KKI memberi pinjaman sebanyak 370 kali, dan Non-Performing Loan-nya (alias yang nggak balik) cuma 0,1%. Itu berarti cuma ada satu orang yang nggak balikin pinjamannya. Sementara di bank-bank komersil, NPL bisa mencapai 3%.

Durasi pinjamannya adalah 25 minggu. Artinya, dalam 6 bulan itu, rakyat miskin mampu balikin pinjaman-pinjaman mereka yang sebesar 600 ribu – 1 juta itu. Berarti, dalam 6 bulan, para peminjam udah sukses punya aset becak baru, warung baru, dan sebagainya.

kki-2

“Memang, kadang terasa berat sekali dan butuh banyak doa untuk menjalaninya. Dan ketika memilih jalan seperti ini, sebenarnya bukan hanya kita yang berkorban. Keluarga kita juga ikut berkorban. Saya bersyukur istri bisa menerima ‘kegilaan’ saya. Dia hanya berpesan agar jangan sampai nantinya anak kami kelaparan atau tidak bisa bersekolah di tempat yang bagus. Boleh saja mengejar impian, tapi keluarga harus tetap tercukupi. Dan saya sangat setuju dengannya. Satu hal lagi, ketika kita dipercaya punya talenta atau rezeki berlebih, kita harus ingat di dalamnya ada bagian orang lain, karenanya jangan menutup mata.”

Sejujurnya di saat semua orang sedang berlomba – lomba untuk menjadi kaya, seseorang seperti Leon ini seperti oase ya. Dia bukan berasal dari keluarga berkecukupan. Dia hidup dan menikah dengan penghasilan sendiri. McKinsey sendiri merupakan perusahaan impiannya. Tapi saat penilaian dia menyatakan bahwa semangat kerja dia bukan di McKinsey, dimana menurut gw itu adalah langkah yang berani. Bayangin aja kalo gw ada di posisi dia, jika gw menyatakan bahwa semangat gw bukanlah di McKinsey ini, buat gw adalah bunuh diri. Tapi dia jujur dengan passionnya, meninggalkan posisinya dia di sana. meninggalkan gaji dia yang gw rasa wow banget yah… Yang kita bicarakan McKinsey lho.
Leon1
“Misalnya, saya dikasih umur sampai 50 tahun. Kalau saya baru mulai membantu orang di usia 40, berarti saya cuma punya waktu selama 10 tahun. Tapi saya mulai di usia 25, berarti saya punya 25 tahun untuk membantu orang. Umur orang nggak ada yang tahu.”
Salut untuk Leon yang sudah berani keluar dari comfort zone nya dan terima kasih Mba Leija yang sudah menulis mengenai sosok Leonardo Kamilius.
sumber bacaan dan foto:
letthebeastin.blogspot.com
fimela.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s