Book Review : Four – Veronica ROth

Gw menyukai film Divergent setelah tidak sengaja nonton di entah HBO atau Fox Movies. Dan ya akhirnya gw pun membaca trilogy Divergent yang terdiri dari Divergent, Insurgent, dan Allegiant dimana dua buku pertama diceritakan dari sudut pandang orang pertama dan satu buku terakhir diceritakan dari sudut pandang dua orang yaitu Four dan Tris. Nah begonya gw adalah ketika gw mau baca Allegiant, gw baca akhirnya dulu. Selera membaca gw langsung merosot ke titik paling dasar dan akhirnya gw ga baca lagi. Jadi gw tidak pernah menyelesaikan buku Allegiant.

Lama berlalu, gw menemukan bahwa Veronica Roth menulis tentang Four. Dari sudut pandang FOur mengenai berbagai hal tentu saja. Dan pagi ini, tepatnya pukul 7.35 pagi (emang pas gw selesai baca ngelihat jam aja sih soalnya kan mau berangkat ke kantor) gw menyelesaikan buku ini.

Blurb 

Dua tahun sebelum Beatrice Prior menentukan takdirnya, putra pemimpin Abnegation melakukan hal yang sama. Tobias Eaton berkhianat dari Abnegation, berpindah ke Dauntless, dan berubah menjadi Four. Mencari kebebasan dan kehidupan yang bebas dari masa lalu. Ternyata di Dauntless pun Four masih meragukan pilihannya. Apalagi secara tak sengaja dia mengetahui persekongkolan antara pemimpin Dauntless dan Erudite. Sementara, sang Ibu yang ternyata masih hidup menginginkannya bergabung dengan factionless.

Haruskah Four kembali berkhianat? Pantaskah faksi ‘tanpa pamrih’ yang ternyata menyembunyikan monster sekejam Marcus Eaton diselamatkan? Four dihadapkan pada pilihan sulit. Mungkinkah pengkhianatan memunculkan kebebasan?

Four: A Divergent Collection, mengisahkan perjalanan Divergent Trilogy dari sudut pandang Tobias Eaton. Dengan bonus tiga kisah ekslusif bersama Tris. Kisah pelengkap Divergent Trilogy yang romantis dan penuh aksi.

Review

Setiap kali gw ngebayangin Four, gw selalu membayangkan Theo James. Cakep banget dia. Jadi pengen nyamperin deh.

Ganteng Sangat…

Selama ini kalau baca Divergent dan Insurgent, sepertinya FOur ini tokoh yang dewasa, sangat kuat. Pemikirannya dalam. Tapi buku mengenai Four ini mengubah semuanya.

Sama seperti manusia pada umumnya, bahwa FOur ini juga mempunyai banyak kelemahan, kegamangan dalam hati dia. Kadang dia tidak mampu banyak mengekspresikan dirinya dan memilih untuk menjaga jarak dari orang lain karena trauma masa lalunya.

Di sini kita diajak menjelajahi isi pikiran Four. Bagaimana awalnya dia akhirnya memilih Dauntless sebagai faksinya, bagaimana kehidupannya di sana, bagaimana ia harus beradaptasi dengan segalanya di Dauntless, keraguan akan jati dirinya, dan perasaan dia terhadap Tris. Well, gw suka banget di bagian akhir yang dia bilang dia memilih Tris daripada alkohol untuk membantu dia melupakan kegelisahan dalam dirinya.

Dalam cerita ini juga diceritakan bagaimana akhirnya dia membuat tattoo semua faksi dalam dirinya dan alasannya membuat tattoo tersebut.

Pada akhirnya cerita Four ini melengkapi semua cerita dari Divergent. Kita bisa tahu isi pikiran Four dan dari sana kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dalam kegembiraannya atau keberaniannya, manusia tetaplah manusia. Ia juga punya rasa ragu, rasa takut, rasa bahagia, rasa sedih. Semua emosi yang memang seharusnya ada karena kembali lagi bahwa ya kita adalah manusia.

Nah sekian cerita tentang Four. Kalau dipikir – pikir, berarti Divergent ga bisa disebut trilogy lagi dong ya hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s